Jumat, 21 September 2018

KONSEP DAN SISTEM AGRIBISNIS


KONSEP DAN SISTEM AGRIBISNIS


Cara terbaik menerapkan konsep dan sistem agribinis yaitu dengan mempelajari konsep dan system agribisnis itu sendiri, seperti pada penjelasan dibawah ini:
            Secara konsepsional, system agribisnis adalah semua aktivitas mulai dari penegadaan dan penyaluran sarana produksi  sampai kepada pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh usaha tani dan agroindustry yang saling terkait satu sama lain. System agribisnis, merupakan suatu konsep yang menempatkan pertanian sebagai suatu kegiatan yang utuh dan komperhensif sekaligus sebagai suatu konsep yang dapat menelaah dan menjawab berbagai masalah dan tantangan.
Sistem Agribisnis merupakan suatu system yang terdiri dari beberapa subsistem, diantaranya :
1.      Sub sistem agribisnis hulu (upstream agribusiness) (off-farm), kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti industri dan perdagangan agrokimia (pupuk, pestisida, dll), industri agrootomotif (mesin dan peralatan), dan industri benih/bibit. Subsistem agribisnis hulu menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi ternak yang pada prinsipnya mencakup kegiatan: perenacanaan dan pengelolaan dari sarana produksi ternak, teknologi, sumber daya, agar penyediaan sarana produksi ternak memenuhi kriteria-kriteria berikut:
a.         Tepat waktu
b.        Tepat jumlah
c.         Tepat jenis
d.        Tepat mutu
e.         Tepat produk
f.         Terjangkau oleh daya beli
2.      Sub sistem produksi/usaha tani (on-farm agribusiness) kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana produksi yang dihasilkan oleh subsistem agribisnis hulu untuk menghasilkan produk pertanian primer. Termasuk ke dalam subsistem usaha tani ini adalah usaha tanaman pangan, usaha tanaman hortikultura, usaha tanaman obat-obatan, usaha perkebunan, usaha perikanan, usaha peternakan, dan kehutanan. Subsistem usahatani ternak mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usahatani ternak dalam rangka meningkatkan produksi utama ternak. Kegiatan-kegiatan subsistem usahatani ternak, meliputi:
a.         Pemilihan lokasi usaha tani ternak
b.        Penentuan komoditi ternak
c.         Teknologi usaha tani yang di terapkan
d.        Pola usahatani yang ideal
Pelaksanaan usahatani ternak hendaknya di tekankan pada usahatani yang intensif dan berkesinambungan, artinya meningkatkan produktifitas ternak dengan cara intensifikasi dengan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah pelestarian sumber daya alam dan lingkungan.
Usaha ternak yang dipilih hendaknya juga usahatani ternak komersial artinya produk utama yang akan dihasilkan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam artian ekonomi terbuka dan bukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi konsumsi dalam artian ekonomi tertutup.
3.       Sub sistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness) (off-farm), berupa kegiatan ekonomi yang mengolah produk pertanian primer menjadi produk olahan, baik produk awal maupun produk akhir, beserta kegiatan perdagangan di pasar domestik maupun di pasar internasional. Kegiatan ekonomi yang termasuk dalam subsistem agibisnis hilir ini antara lain adalah industri pengolahan makanan, industri pengolahan minuman, industri pengolahan serat (kayu, kulit, karet, sutera, jerami) industri jasa boga industri farmasi dan bahan kecantikan, dan lain-lain beserta kegiatan perdagangannya.
4.      Subsistem lembaga penunjang (off-farm) Seluruh kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis, seperti lembaga keuangan, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga transportasi, lembaga pendidikan, dan lembaga pemerintah (kebijakan fiskal dan moneter, perdagangan internasional, kebijakan tata-ruang, serta kebijakan lainnya). Subsistem jasa layanan pendukung atau kelembagaan penunjang agribisnis adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi mendukung dan melayani serta mengembangkan kegiatan ketiga subsistem agribisnis yang lain. Subsistem jasa penununjang agribisnis keberadaannya juga sangat diperlukan bagi pengembangan usahatani ternak. Misalnya lembaga keuangan, pengembangan institusi sumber daya manusia, pengembangan organisasi ekonomi petani peternak dan pengembangan fungsi penelitian. Hal ini diperlukan karena keberadaan lembaga-lembaga tersebut untuk melaksanakan fungsi secara total dan proporsional bagi bagi kepentingan petani peternak untuk menuju penerapan sistem agribisnis. Berdasarkan pandangan di atas bahwa agribisnis sebagai suatu sistem dapat terlihat dengan jelas bahwa subsistem-subsistem tersebut tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling terkait satu dengan yang lain. Subsistem agribisnis hulu membutuhkan umpan balik dari subsistem usahatani agar dapat memproduksi sarana produksi yang sesuai dengan kebutuhan budidaya peternakan. Sebaliknya, keberhasilan pelaksanaan operasi subsistem usahatani bergantung pada sarana produksi yang dihasilkan oleh subsistem agribisnis hilir. Selanjutnya, proses produksi agribisnis hilir bergantung pada pasokan komoditas primer yang dihasilkan oleh subsistem usahatani.
Pengembangan usaha peternakan dapat sekaligus meningkatkan ketahanan pangan peternak yang mengusahakannya, apabila peningkatan produktivitas usaha sejalan dengan peningkatan pendapatan peternak. Selama ini peningkatan produksi hasil peternakan belum sepenuhnya dinikmati peternak, karena sebahagian besar dari mereka hanya bergerak pada kegiatan onfarm, dan nilai tambah terbesar justru berada pada kegiatan offfarm agribusiness yang lebih banyak dinikmati industri hulu dan hilir seperti industri pakan, pengolahan dan pemasaran.
Selain itu besarnya ketergantungan terhadap komponen impor pada pakan menyebabkan usaha ini rentan sekali terhadap berbagai perubahan dalam lingkungan nasional dan global . Dalam upaya memperkuat posisi tawar peternak, maka selain pengembangan diversifikasi usaha, diperlukan wadah yang dapat menyatukan peternak dalam berhadapan dengan industri hilir dan hulu, atau malah mengembangkan kegiatan yang sama dengan yang dilakukan industri hilir dan hulu. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa pengembangan organisasi petani/peternak terbentur sulitnya menyatukan kepentingan mereka dalam satu wadah. Untuk memecahkan semua itu maka perlu dilakukan pendekatan, yaitu pendekatan melalui pengembangan corporate farming merupakan salah satu alternatif dalam menyatukan peternak. Kelebihan pendekatan ini terletak pada tersedianya manajemen yang diharapkan dapat mencari faktor pengikat ying dapat menyatukan kepentingan petani, serta memperkecil variasi penggunaan input antar peternak/petani dalam mengembangkan usahanya .
Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan masyarakat, terutama yang terkait dengan produk peternakan, tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan dalam penyediaan produksi hasil ternak seperti telur, susu dan daging, namun juga harus dilihat seberapa jauh usaha peternakan yang dikembangkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat. Peningkatan daya beli melalui peningkatan produktivitas usaha dan pendapatan peternak, dengan sendirinya meningkatkan ketahanan pangan masyarakat dan sekaligus merupakan pasar yang potensial bagi produk peternakan.
Pengalaman selama pemerintahan Orde Baru, pendekatan dalam pembangunan pertanian lebih mengarah pada pengembangan produksi dengan menekankan perhatian pada kegiatan onfarm dan cenderung parsial. Semua berjalan sendiri-sendiri dengan sasaran petani yang sama, dan pencapaian sasaran lebih dilihat pada peningkatan produksi . Hasilnya seperti yang sudah kita ketahui semua, produksi hampir semua produk pertanian, termasuk peternakan mengalami peningkatan, namun pendapatan petani yang mengusahakannya tidak banyak berubah malahan cenderung makin menurun secara riil. Persoalannya, karena nilai tambah terbesar dari usaha yang dikembangkan petani justru berada di sektor hilir atau off farm agribusiness, yang justru tidak dinikmati petani.
Selain itu, karena pendekatannya parsial, sumberdaya yang ada disekitar petani tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Pada Kabinet Persatuan sekarang ini dilakukan perubahan dengan menekankan pada pendekatan agribisnis, dan mulai ada pemikiran melihat pengembangan suatu komoditi secara utuh . Selain itu keterkaitan antara satu komoditi dengan komoditi lainnya juga mulai diperhatikan, sehingga dihasilkanlah beberapa pemikiran tentang keterpaduan pengembangan suatu kawasan.
Konsep pengembangan usaha peternakan terpadu, yang melihat pengembangan ternak ayam ras dalam kaitannya dengan industri hilir clan hulu sudah lama dilontarkan oleh Dr. Soehaclji, mantan Dirjen Peternakan dengan konsepnya tentang KINAK (Kawasan Industri Peternakan). Kendala utama yang dihadapi adalah sulitnya menyatukan berbagai usaha yang ada dalam menghadapi pasar dan pesaing, sehingga bargainingposition peternak tetap lemah. Pada masa yang akan datang pengembangan pertanian dalam arti luas, termasuk peternakan di dalamnya, tidak mungkin lagi dilakukan secara parsial, dan pendekatannya lebih pada optimalisasi pemanfaatan sumberclaya kawasan. Untuk itu dibutuhkan organisasi petani yang kuat, yang dapat mengayomi kepentingan petani dalam upaya peningkatan produktivitas usaha dan pendekatan mereka, sehingga pada akhirnya mereka memiliki ketahanan pangan yang baik .
Corporate Farming merupakan salah satu alternatif kelembagaan yang cocok untuk itu. Hal lainnya yang menyebabkan rapuhnya usaha peternakan yang dikembangkan masyarakat adalah, sebagian besar peternak hanya bergerak pada kegiatan pemeliharaan (on farm) saja, sementara inclustri hulu clan hilir dikuasai oleh beberapa perusahaan kuat . Sehingga stabilitas usaha sangat rapuh, dan ketergantungan terhadap perusahaan besar tinggi sekali serta penghasilan yang diterima peternak kecil dan fluktuatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mitigasi & Adaptasi  Perubahan Iklim Mitigasi  dalam kamus John M. Echols dan Hassan Shadily memiliki arti yaitu pengurangan. Ada...