Rabu, 21 November 2018


Mitigasi & Adaptasi 
Perubahan Iklim

Mitigasi dalam kamus John M. Echols dan Hassan Shadily memiliki arti yaitu pengurangan. Adapun adaptation atau adaptasi artinya penyesuaian diri. Kedua istilah ini menjadi penting karena menyangkut strategi menghadapi perubahan alam. Melalui mitigasi, usaha yang dapat dilakukan adalah mengurangi sebab pemanasan global dari sumbernya. Gunanya agar laju pemanasan itu melambat, dan pada saat bersamaan dapat dilakukan persiapan diri untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada, sehingga diharapkan akan ditemukan suatu titik temu yang menjamin kelangsungan hidup manusia.

http://climateknowledge.org/figures/WuGblog_figures/RBRWuG0052_IPCC_2001_mitigation_adaptation_blue.jpg


Dalam skala kecil, mitigasi bisa berupa gerakan cinta lingkungan seperti pengelolaan sampah, bike to work, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan AC yang non CFC, hemat energi dan lain sebagainya. Adapun beradaptasi dapat dilakukan dengan melakukan penataan lansekap lingkungan, penghijauan, menjaga daerah resapan, re-userecycling, dan lain-lain.
Beradaptasi terhadap perubahan iklim merupakan prioritas mendesak bagi Indonesia. Seluruh kementerian dalam pemerintahan dan perencanaan nasional perlu mempertimbangkan perubahan iklim dalam program-program mereka – berkenaan dengan beragam persoalan seperti pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, keamanan pangan, pengelolaan bencana, pengendalian penyakit, dan perencanaan tata kota. Namun ini bukan merupakan tugas pemerintah pusat belaka, tetapi harus menjadi upaya nasional yang melibatkan pemerintah daerah, masyarakat umum, dan semua organisasi nonpemerintah, serta pihak swasta.
Di tahun-tahun belakangan ini masyarakat dunia semakin meresahkan efek pemanasan global dan di awal tahun 1990an telah mengonsep United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC), yang diberlakukan pada 1994. Di dalam kerangka ini mereka mengajukan dua strategi utama: mitigasi dan adaptasi (Boks 5). Mitigasi meliputi pencarian cara-cara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca atau menahannya, atau menyerapnya ke hutan atau ‘penyerap’ karbon lainnya. Sementara itu adaptasi,mencakup cara-cara menghadapi perubahan iklim dengan melakukan penyesuaian yang tepat – bertindak untuk mengurangi berbagai pengaruh negatifnya, atau memanfaatkan efek-efek positifnya.
Kenaikan muka air laut yang dapat menggenangi ratusan pulau dan menenggelamkan batas wilayah negara Indonesia. Musim tanam dan panen yang tidak menentu diselingi oleh kemarau panjang yang menyengsarakan. Banjir melanda sebagian besar jalan raya di berbagai kota besar di pesisir. Air laut menyusup ke delta sungai, menghancurkan sumber nafkah pengusaha ikan. Anak-anak menderita kurang gizi akut. Itu bukan berita perubahan iklim kita yang biasa. Umumnya berita perubahan iklim di Indonesia berkisar pada soal penggundulan hutan secara besar-besaran, kebakaran hutan, kerusakan lahan rawa, serta hilangnya serapan karbondioksida – yang menempatkan Indonesia sebagai penyumbang utama pemanasan global. Semua itu memang terjadi, tetapi itu baru merupakan separuh cerita. Seperti yang akan diungkap laporan ini, bangsa Indonesia juga akan menjadi korban utama perubahan iklim - dan bila kita tidak segera belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baru ini, jutaan rakyat akan menanggung akibat buruknya. Perubahan iklim mengancam berbagai upaya Indonesia untuk memerangi kemiskinan. Dampaknya dapat memperparah berbagai risiko dan kerentanan yang dihadapi oleh rakyat miskin, serta menambah beban persoalan yang sudah di luar kemampuan mereka untuk menghadapinya. Dengan demikian, perubahan iklim menghambat upaya orang miskin untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi diri sendiri dan keluarga mereka.
Apa yang dapat kita lakukan terhadap semua ini? Sejauh ini,perhatian terhadap perubahan iklim terutama difokuskan pada ‘mitigasi’ dan utamanya pada upaya-upaya untuk menurunkan karbon dioksida. Semua tindakan ini penting, tetapi bagi masyarakat termiskin, yang hanya punya andil kecil saja terhadap emisi gas tersebut, prioritas yang paling mendesak adalah menemukan berbagai cara untuk mengatasi kondisi lingkungan hidup yang baru ini – beradaptasi. Meski mereka tidak menyebutnya dengan istilah ‘adaptasi’, banyak yang telah berpengalaman dalam ‘adaptasi’ ini. Orang-orang yang tinggal di daerah yang rawan banjir, misalnya, sejak dulu sudah membangun rumah panggung. Para petani di wilayah yang sering mengalami kemarau panjang sudah belajar untuk melakukan diversifikasi pada sumber pendapatan mereka, misalnya dengan menanam tanaman pangan yang lebih tahan kekeringan dan dengan mengoptimalkan penggunaan air yang sulit didapat, atau bahkan berimigrasi sementara untuk mencari kerja di tempat lain. Yang masih perlu dilakukan sekarang ini adalah mengevaluasi dan membangun di atas kearifan tradisional yang sudah ada itu untuk membantu rakyat melindungi dan mengurangi kerentanan sumber-sumber nafkah mereka. 

Adaptasi dalam perencanaan pembangunan
Yang jadi masalah saat ini adalah bahwa adaptasi dapat dilihat hanya sebagai masalah lingkungan hidup semata – dan merupakan tanggung jawab Kementerian Lingkungan Hidup. Padahal, semua departemen pemerintahan dan badan perencanaan nasional perlu mempertimbangkan dampak perubahan iklim ini ke dalam program masing-masing. Berbagai persoalan besar seperti pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, perencanaan tata ruang, ketahanan pangan, pemeliharaan infrastruktur, pengendalian penyakit, perencanaan perkotaan, semuanya mesti ditinjau ulang dari perspektif perubahan iklim.
Tantangannya adalah membuat perencanaan pembangunan menjadi ‘tangguh terhadap iklim’. Dampak perubahan iklim terhadap ekonomi dan pembangunan manusia harus dievaluasi secara seksama dan dipetakan. Kemudian strategi adaptasi harus diintegrasikan ke dalam berbagai rencana dan anggaran, baik pada tingkat pusat maupun daerah. Upaya-upaya pengentasan kemiskinan harus ditingkatkan di bidang-bidang yang khusunya rentan terhadap perubahan iklim dan dibutuhkan berbagai investasi tambahan untuk menggiatkan pengurangan risiko bencana.
Semua upaya ini juga harus dipadukan ke dalam berbagai upaya di tingkat masyarakat dan rumah tangga. Bagaimanapun, masyarakat sudah berpengalaman lama dalam beradaptasi – dengan berbagai tindakan yang sudah dipraktikkan selama berabad-abad. Orang-orang yang tinggal di wilayah yang rentan banjir sejak dulu membangun rumah panggung dan banyak masyarakat masa kini masih meneruskan praktik ini, meski bahan-bahan yang digunakan sudah modern seperti tiang beton atau genteng besi. Di wilayah rawan longsor, orang-orang membangun tanggul penahan longsor yang kukuh. Para petani yang terpapar kemarau panjang sudah belajar untuk mendiversifikasikan sumber pendapatan mereka, menanam tanaman pangan yang tahan kekeringan dan mengoptimalkan penggunaan air yang terbatas, bahkan bermigrasi sementara untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Apakah itu melalui prakarsa di tingkat publik atau individual, adaptasi hendaknya mencakup penguatan sumber-sumber penghidupan dan mengurangi kerentanannya.Hal ini akan mempersyaratkan suatu perubahan dalam arah pembangunan.
Di masa lalu sebagian besar pembangunan di Indonesia didasarkan pada eksploitasi sumber daya alam – dengan manfaat ekonomi yang dinikmati di perkotaan dan biaya lingkungannya dibebankan ke wilayah pedesaan. Pola itu harus diubah. Baik masyarakat di pedesaan maupun di perkotaan sudah seyogyanya menargetkan pembangunan manusia yang berkelanjutan dan ancaman perubahan iklim kini makin mendesakkan kepentingannya. Jika kita tidak mengubah pola pembangunan,maka seluruh sumber daya yang tersedia bagi rakyat – pangan, air, dan wilayah pemukiman kemungkinan dapat menjadi makin sulit didapat. Perubahan pola pembangunan ini memerlukan strategi adaptasi yang lebih luas yang melibatkan pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta – memadukan antara pendekatan pada tingkat pemerintahan dan kelembagaan dengan pendekatan bottom-up yang berakar pada pengetahuan kewilayahan, kebangsaan, dan lokal. Sementara adaptasi merupakan faktor vital dalam seluruh aktivitas pembangunan, secara khusus adaptasi penting dilakukan dalam bidang-bidang pertanian,wilayah pesisir, penyediaan air, kesehatan dan wilayah perkotaan, dengan air memainkan peran lintas sektoral di berbagai bidang ini.

Adaptasi dalam Pertanian/Peternakan
Di antara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim adalah para petani Indonesia. Sejauh ini, para petani di Jawa berhasil menanam padi dua kali dalam setahun, tetapi dengan perubahan iklim, panen kali kedua tampaknya akan menjadi lebih rentan. Oleh karena itu, para petani yang sudah banyak berpengalaman mengatasi dampak buruk kejadian iklim yang ekstrem akan harus lebih banyak beradaptasi lagi di masa mendatang. Mereka, misalnya akan perlu mempertimbangkan berbagai varietas tanaman pangan. Beberapa jenis tanaman pangan memiliki kapasitas adaptasi secara alamiah, seperti jenis padi hasil persilangan yang berbunga pada waktu dini hari sehingga dimungkin terhindar dari suhu lebih tinggi di siang hari. Para petani juga mungkin dapat menggunakan varietas yang lebih mampu bertahan terhadap kondisi yang ekstrem – kemarau panjang, genangan air, intrusi air laut – atau berbagai varietas padi yang lekas matang yang cocok untuk musim hujan yang lebih pendek. Para petani juga perlu mengupayakan cara-cara untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan bahan-bahan organik bagi tanah supaya lebih mampu menahan air – yaitu dengan menggunakan lebih banyak pupuk alamiah.
Prioritas lainnya adalah pengelolaan air yang lebih baik. Caranya mungkin adalah dengan lebih banyak berinvestasi untuk irigasi dan juga dalam menampung dan menyimpan air – untuk menyeimbangkan peningkatan curah hujan di bulan April, Mei dan Juni, dengan penurunan curah hujan di bulan Juli, Agustus, dan September. Para petani mungkin akan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim bila mereka memiliki perkiraan cuaca yang akurat dan tahu bagaimana harus merespon perubahan itu. Jika, misalnya, mereka dapat menyesuaikan waktu tanam dengan turun hujan pertama, mereka akan dapat memanen hasil yang lebih baik karena tanaman pangan mereka memperoleh lebih banyak unsur penyubur. Atau jika mereka tahu tahun itu akan menjadi tahun kemarau, maka mereka dapat mengganti tanaman pangan – mungkin dengan menanam kacang hijau, dan bukan padi. Mereka juga dapat beralih ke tanaman pangan yang lebih tinggi nilai jualnya meski hal ini bergantung pada kualitas benih dan masukan serta berbagai bantuan tambahan. Sementara itu mereka juga dapat melakukan penyesuaian antara menanam tanaman pangan dan memelihara ternak. Akhirnya, para petani yang tengah menghadapi atau sudah mengalami tahun gagal panen, dapat beradaptasi dengan bekerja di bidang non-tani,mungkin dengan bermigrasi sementara ke daerah lain atau ke kota lain.
Saat ini meski para petani ini sudah mendapatkan informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika,mereka mungkin tidak tahu bagaimana menginterpretasikan informasi itu. Suatu prakarasa untuk menjembatani hal ini adalah Sekolah Lapang Iklim seperti yang diadakan di Indramayu yang bertujuan menerjemahkan perkiraan ilmiah iklim ke dalam bahasa petani yang lebih sederhana dan melatih para petani untuk merespon.
Jika para petani memiliki akses ke informasi dan sarana yang tepat mereka akan dapat melakukan sendiri adaptasi yang dibutuhkan. Namun, sebagian dari mereka akan lebih sulit melakukan adaptasi, entah itu karena tanah garapan mereka tidak subur,misalnya, atau karena pasokan air tidak memadai, atau karena mereka tidak memiliki modal. Selain itu, mereka juga mungkin menghadapi berbagai kendala kelembagaan atau kultural. Dalam berbagai kasus seperti ini, pemerintah bisa membantu melalui intervensi yang langsung dan terencana, dengan menyediakan pengetahuan baru atau peralatan baru atau mencarikan teknologi-teknologi baru.

Sektor-sektor yang akan terkena dampak perubahan iklim dan upaya adaptasi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

Sektor
Dampak
Adaptasi
Pengairan
Kendala suplai irigasi dan air minum, dan peningkatan salinitas
Intrusi air asin ke daratan dan aquifer pantai
Perencanaan, pembagian air, komersialisasi
Suplai air alternatif, mundur
Ekosistem Darat
Peningkatan salinitas  di lahan pertanian dan aliran air
Kepunahan Keanekaragaman Hayati
Peningkatan resiko kebakaran
Invasi Gulma
Perubahan praktek penggunaan lahan
Pengelolaan Pertamanan
Pengelolaan lahan, Perlindungan thd. Kebakaran
Pengelolaan Pertamanan
Ekosistem Air
Salinisasi lahan sawah di wil. Pantai
Perubahan ekosistem sungai dan sawah
Eutropikasi
Intervensi fisik
Perubahan alokasi air
Perubahan alokasi air, mengurangi aliran masuk hara
Ekosistem Pantai
Perusakan terumbu karang
Limbah beracun
Penyemaian terumbu karang (?)
Pertanian dan kehutanan
Penurunan produktivitas, resiko banjir dan kekeringan, resiko kebakaran hutan
Perubahan pada pasar global
Peningkatan serangan hama dan penyakit
Peningkatan produksi oleh peningkatan CO2 diikuti dengan penurunan produksi oleh perubahan iklim
Perubahan pengelolaan dan kebijakan, perlindungan terhadap kebakaran dan peramalan musim
Pemasaran, perencanaan , dan perdaganngan Karbon.
Pengendalian terpadu, penyemprotan
Merubah teknik usaha tani dan industry
Hortikultur
Dampak campuran + dan – tergantung  spesies dan lokasi
Relokasi
Perikanan
Perubahan tangkapan
Monitoring, pengelolaan
Perumahan, industri
Peningkatan dampak banjir, badai dan kenaikan muka air laut
Pewilayahan, perencanaan bencana
Kesehatan
Ekspansi dan perluasan vektor penyakit
Peningkatan polusi fotokimia udara
Karantina, eradikasi atau pengendalian
Pengendalian emisi

Menurut penggolongan IPCC, Indonesia tidak termasuk dalam negara katagori Annex I (negara-negara maju). Menurut UU no 6 tahun 1994, yaitu UU pengesahan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang perubahan iklim, Indonesia tidak wajib ikut menekan emisi GRK, tetapi hanya bersifat sukarela. Menurut UU lingkungan hidup no 23 tahun 1997, menjaga kelestarian lingkungan hidup adalah suatu yang harus dilakukan agar pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Jadi upaya mengurangi laju emisi GRK menjadi keharusan dalam rangka melestarikan lingkungan.
Dalam UU No. 6 tahun 1994, jika negara bukan anggota Annex I ikut dalam upaya menekan emisi GRK ataupun melakukan upaya-upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim, maka dalam melakukan upaya tersebut berhak menggunakan dana Climate Change Fund yang disediakan oleh UNFCC. Agar dapat memanfaatkan dana ini, Indonesia harus melakukan beberapa tahapan antara lain (Murdiyarso, 2001; Boer, 2001):
  • Penyusunan data base dan sistim informasi 
  • Kajian ilmiah dan kemampuan prediksi serta analisis dampak perubahan iklim 
  • Menyusun Building Capacity dalam rangka adaptasi terhadap dampak perubahan iklim 
  • Menyiapkan kelembagaan di tingkat pusat dan daerah 
  • Menyiapkan perangkat hukum dan perundangan 
  • Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat



Dilema Antara Usaha Peningkatan Produktivitas Bahan Pangan Hewani
dan Gerakan Cinta Lingkungan

Manusia membutuhkan berbagai asupan nutrien sebagai penghasil energi untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan mempertahankan kehidupannya. Asupan nutrien tersebut bisa didapatkan melalui makanan, baik yang berasal dari makanan nabati maupun makanan hewani. Makanan nabati adalah makanan yang berasal dari produk-produk yang berasal dari tumbuhan seperti sayur, buah, minyak nabati, biji-bijian dan umbi-umbian. Makanan hewani adalah makanan yang diperoleh dari poduk-produk yang dihasilkan oleh hewan, seperti daging, susu, telur dan ikan.
Salah satu nutrien yang sangat dibutuhkan oleh manusia yaitu protein dan asam amino. Protein dan asam amino mutlak dibutuhkan oleh tubuh manusia sebagai bahan penyusun sel. Sel manusia memang dapat mensintesis asam amino sendiri, namun ada beberapa asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh. Asam amino tersebut disebut sebagai asam amino esensial. Asam amino esensial hanya dapat diperoleh manusia dari asupan makanan yang mereka makan. Asam amino esensial ini nanti akan sangat dibutuhkan dalam proses sintesis protein, dimana protein-protein tersebut akan sangat dibutuhkan untuk pembentukan berbagai enzim dan hormon dalam tubuh sehingga jika asam amino esensial tubuh tidak terpenuhi maka produksi enzim dan hormon akan teganggu dan proses metabolisme juga akan terganggu.
Produk makanan hewani mengandung protein hewani yang memiliki asam amino esensial yang lengkap. Protein hewani juga memiliki kandungan vitamin B12 yang tidak ditemui dalam protein nabati, dimana vitamin B12 ini sangat berguna dalam proses pembentukan sel darah merah, memperlancar sistem metabolisme dan menjaga sistem saraf (Nestle t.thn.). Asupan protein hewani juga penting bagi perkembangan otak anak, baik saat masih di dalam kandungan maupun saat masa kanak-kanak, sehingga untuk membentuk generasi yang cerdas diperlukan asupan protein hewani yang mencukupi. Untuk mencukupi kebutuhan protein hewani masyarakat, diperlukan adanya peternakan yang memproduksi komoditas hasil peternakan. Namun, ada isu yang berkembang belakangan ini bahwa sektor peternakan merupakan sektor yang banyak berkontribusi dalam pelepasan gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.
Sapi merupakan ternak ruminansia dengan sistem pencernaan poligastrik. Sapi memiliki rumen, dimana di dalamnya terdapat mikroorganisme yang memecah selulosa pada dinding sel tumbuhan sehingga nutrien dalam tumbuhan tersebut dapat dimanfaatkan untuk proses metabolisme sapi. Dalam proses pemecahan selulosa, di dalam rumen terjadi fermentasi yang menghasilkan gas metana. Gas metana yang dihasilkan di dalam rumen sapi kemudian dikeluarkan dalam bentuk gas buangan (kentut dan sendawa) serta dalam feses sapi. Gas metana inilah yang disebut-sebut sebagai salah satu penyebab pemanasan global.
Gas metana sendiri adalah gas yang dampaknya terhadap pemanasan global lebih besar dibanding gas karobondioksida. Human Society International (2014) menyatakan bahwa dalam jangka waktu 20 tahun, metana memiliki angka GWP (Global Warming Potential) setidaknya 25 kali lipat dibanding karbondioksida. Artinya, gas metana yang dihasilkan oleh kegiatan hasil peternakan memiliki dampak yang lebih signifikan dibanding gas karbondioksida yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil. Sektor peternakan sendiri berkontribusi sebanyak 35%-40% dari total keseluruhan gas metana secara global. Diperkirakan setiap tahun ada 86 juta ton metana yang dilepaskan ke atmosfer sebagai hasil dari pencernaan hewan ternak. Gas metana ini tidak hanya dihasilkan oleh peternakan sapi, namun juga dihasilkan oleh peternakan kambing dan domba yang juga merupakan hewan poligastrik yang memiliki rumen dan mengalami fermentasi di dalam rumennya dan menghasilkan gas metana.
Selain gas metana, kegiatan di sektor peternakan secara tidak langsung juga bertanggung jawab terhadap emisi gas karbondioksida. Kegiatan distribusi pakan, ternak hidup, daging, susu, telur dan produk-produk olahan hasil peternakan membutuhkan bahan bakar fosil yang akan melepas gas karbondioksida ke atmosfer. Pembuatan pakan ternak juga membutuhkan berbagai komoditas pertanian seperti jagung dan kedelai. Produksi jagung dan kedelai sebagai bahan baku pembuatan pakan membutuhkan lahan yang tidak sedikit. Akibatnya terjadilah deforestasi yang menambah buruk pemanasan global karena hutan sebagai penghasil oksigen dan paru-paru dunia  ditebangi dan diganti dengan komoditas pertanian sehingga menyebabkan penipisan lapisan ozon di atmosfer. Selain itu, perkebunan jagung dan kedelai yang memerlukan pupuk sehingga memunculkan munculnya pabrik-pabrik pupuk kimia. Adanya pabrik pupuk juga menghasilkan gas rumah kaca yang dilepas ke atmosfer. Pembakaran bahan bakar fosil alam distribusi pakan dan komoditas hasil peternakan, deforestasi dan emisi dari pabrik-pabrik pupuk tersebut secara tidak langsung merupakan dampak dari industri peternakan.
Dampak-dampak yang disebabkan pleh adanya industri peternakan tidak bisa sepenuhnya dihindari. Yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah meminimalisir adanya dampak dampak merugikan tersebut. Secara garis besar, masalah pada sektor peternakan dan lingkungan dapat dibagi menjadi empat yaitu adanya metana sebagai hasil pencernaan secara biologis pada rumen ternak poligastrik, emisi gas karbondioksida pada proses distribisi pakan dan komoditas hasil peternakan, deforestasi akibat pembukaan lahan untuk ditanami komoditas bahan baku pakan ternak, dan emisi gas rumah kaca oleh pabrik pupuk.
Gas metana yang dihasilkan oleh ternak sebenarnya dapat diminimalisir dampak negatifnya dengan cara pemanfaatan feses ternak menjadi biogas. Instalasi pembuatan biogas memiliki desain yang sederhana dan mudah untuk dibuat. Cara ini efektif untuk mengurangi gas metana yang terdapat pada feses ternak. Selain nitu, pemanfaatan feses sebagai biogas juga merupakan salah satu bentuk dari pemanfaatan energi alternatif yang bersifat renewable. Pemanfaatan feses menjadi biogas juga dapat mengurangi biaya operasional peternakan karena biogas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik untuk kegiatan operasional peternakan. Namun, pemanfaatan feses sebagai biogas hanya mampu mengatasi masalah emisi gas metana yangada pada feses, sedangkan gas metana juga terdapat pada kentut dan sendawa hewan ruminansia. Gas metana merupakan gas yang mutlak dihasilkanoleh hewan ruminansia, karena hal tersebut merupakan bagian dari aktivitas metabolismenya. Hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk dari masalah tersebut adalah dengan cara pemberian pakan dengan formulasi sedemikian rupa sehingga gas hasil fermentasi berupa metana yang dihasilkan oleh mikrobia dalam rumen dapat diminimalisir jumlahnya.
Sapi yang diternakkan, terutama di perusahaan-perusahaan feedlot pada umumnya akan diberi pakan dengan formulasi tertentu untuk mengoptimalkan pertumbuhannya. Pakan tersebut terdiri dari hijauan dan ransum. Puspitasari dkk (2015) menyatakan bahwa feses sapi Friesian Holstein (FH) laktasi yang diberi pakan ransum dan rumput gajah menghasilkan gas metana dengan jumlah yang lebih rendah dibandingkan sapi yang diberi pakan ransum dan jerami padi atau ransum dan campuran jerami padi dan rumput gajah. Artinya, pakan memiliki pengaruh terhadap produksi gas metana hewan ternak. Namun, sebagai sebuah industri, sektor peternakan juga memerhatikan efisiensi produksi. Tujuan dari industri peternakan sendiri adalah bagaimana caranya menghasilkan produk peternakan dengan waktu secepat mungkin supaya terjadi efisiensi. Untuk itu sudah banyak sekali penelitian tentang formulasi pakan dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak. Pemberian pakan yang menghasilkan lebih sedikit gas metana menjadi sebuah dilema tersendiri karena pakan merupakan inti dari industri peternakan dimana 70% biaya produksi terletak pada pakan sehingga kenaikan biaya untuk pembuatan pakan dengan emisi metana rendah akan menyebabkan peningkatan biaya produksi yang cukup signifikan. Untuk itu, masih diperlukan penelitian bagaimana formulasi pakan yang dapat meminimalisir gas metana yang dihasilkan pada rumen sapi, namun tetap memberikan tingkat efisiensi yang tinggi terhadap usaha penggemukan ternak.
Emisi gas karbondioksida karena kegiatan distribusi ternak atau komoditas hasil ternak dapat diminimalisir dengan cara pembagian kuota wilayah ekspor dan impor ternak dan komoditas hasil ternak, sehingga negara eksportir hanya dapat mengekspor komoditasnya di negara yang letaknya tidak terlalu berjauhan. Selain itu, pengurangan kuota impor atau jual beli antar daerah ternak hidup juga dapat dikurangi dan diganti dengan impor daging beku yang lebih efisien tempat sehingga kegiatan distribusi juga menjadi lebih efisien. Pemerataan daerah sentra peternakan juga perlu dilakukan supaya kegiatan distribusi yang terjadi pada jarak yang terlalu jauh. Selain itu penggunaan bahan baku lokal sebagai bahan baku pakan juga dapat mengurangi banyaknya kegiatan distribusi.
Deforestasi yang disebabkan oleh penanaman jagung dan kedelai sebagai bahan baku pakan dan emisi yang diakibatkan oleh pabrik pupuk kimia dapat diminimalisir dengan cara penerapan integrated farming system (IFS). Lahan kosong di sekitar peternakan dapat ditanami komoditas bahan pakan sehingga mengurangi deforestasi. Selain itu, sludge atau lumpur feses yang gasnya sudah dijadikan biogas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman bahan pakan yang ditanam di sekitar peternakan sehingga mengurangi penggunaan pupuk kimia.




 PENERAPAN KONSEP DAN SISTEM AGRIBISNIS
            

Secara konsepsional, sistem agribisnis adalah semua aktivitas mulai dari penegadaan dan penyaluran sarana produksi  sampai kepada pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh usaha tani dan agroindustry yang saling terkait satu sama lain. System agribisnis, merupakan suatu konsep yang menempatkan pertanian sebagai suatu kegiatan yang utuh dan komperhensif sekaligus sebagai suatu konsep yang dapat menelaah dan menjawab berbagai masalah dan tantangan.
Sistem agribisnis merupakan suatu system yang terdiri dari beberapa subsistem, diantaranya :
1.      Sub sistem agribisnis hulu (upstream agribusiness) (off-farm), kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti industri dan perdagangan agrokimia (pupuk, pestisida, dll), industri agrootomotif (mesin dan peralatan), dan industri benih/bibit. Subsistem agribisnis hulu menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi ternak yang pada prinsipnya mencakup kegiatan: perenacanaan dan pengelolaan dari sarana produksi ternak, teknologi, sumber daya, agar penyediaan sarana produksi ternak memenuhi kriteria-kriteria berikut:
a.         Tepat waktu
b.        Tepat jumlah
c.         Tepat jenis
d.        Tepat mutu
e.         Tepat produk
f.         Terjangkau oleh daya beli
2.      Sub sistem produksi/usaha tani (on-farm agribusiness) kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana produksi yang dihasilkan oleh subsistem agribisnis hulu untuk menghasilkan produk pertanian primer. Termasuk ke dalam subsistem usaha tani ini adalah usaha tanaman pangan, usaha tanaman hortikultura, usaha tanaman obat-obatan, usaha perkebunan, usaha perikanan, usaha peternakan, dan kehutanan. Subsistem usahatani ternak mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usahatani ternak dalam rangka meningkatkan produksi utama ternak. Kegiatan-kegiatan subsistem usahatani ternak, meliputi:
a.         Pemilihan lokasi usaha tani ternak
b.        Penentuan komoditi ternak
c.         Teknologi usaha tani yang di terapkan
d.        Pola usahatani yang ideal
Pelaksanaan usahatani ternak hendaknya di tekankan pada usahatani yang intensif dan berkesinambungan, artinya meningkatkan produktifitas ternak dengan cara intensifikasi dengan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah pelestarian sumber daya alam dan lingkungan.
Usaha ternak yang dipilih hendaknya juga usahatani ternak komersial artinya produk utama yang akan dihasilkan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam artian ekonomi terbuka dan bukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi konsumsi dalam artian ekonomi tertutup.
3.       Sub sistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness) (off-farm), berupa kegiatan ekonomi yang mengolah produk pertanian primer menjadi produk olahan, baik produk awal maupun produk akhir, beserta kegiatan perdagangan di pasar domestik maupun di pasar internasional. Kegiatan ekonomi yang termasuk dalam subsistem agibisnis hilir ini antara lain adalah industri pengolahan makanan, industri pengolahan minuman, industri pengolahan serat (kayu, kulit, karet, sutera, jerami) industri jasa boga industri farmasi dan bahan kecantikan, dan lain-lain beserta kegiatan perdagangannya.
4.      Subsistem lembaga penunjang (off-farm) Seluruh kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis, seperti lembaga keuangan, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga transportasi, lembaga pendidikan, dan lembaga pemerintah (kebijakan fiskal dan moneter, perdagangan internasional, kebijakan tata-ruang, serta kebijakan lainnya). Subsistem jasa layanan pendukung atau kelembagaan penunjang agribisnis adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi mendukung dan melayani serta mengembangkan kegiatan ketiga subsistem agribisnis yang lain. Subsistem jasa penununjang agribisnis keberadaannya juga sangat diperlukan bagi pengembangan usahatani ternak. Misalnya lembaga keuangan, pengembangan institusi sumber daya manusia, pengembangan organisasi ekonomi petani peternak dan pengembangan fungsi penelitian. Hal ini diperlukan karena keberadaan lembaga-lembaga tersebut untuk melaksanakan fungsi secara total dan proporsional bagi bagi kepentingan petani peternak untuk menuju penerapan sistem agribisnis. Berdasarkan pandangan di atas bahwa agribisnis sebagai suatu sistem dapat terlihat dengan jelas bahwa subsistem-subsistem tersebut tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling terkait satu dengan yang lain. Subsistem agribisnis hulu membutuhkan umpan balik dari subsistem usahatani agar dapat memproduksi sarana produksi yang sesuai dengan kebutuhan budidaya peternakan. Sebaliknya, keberhasilan pelaksanaan operasi subsistem usahatani bergantung pada sarana produksi yang dihasilkan oleh subsistem agribisnis hilir. Selanjutnya, proses produksi agribisnis hilir bergantung pada pasokan komoditas primer yang dihasilkan oleh subsistem usahatani.
Pengembangan usaha peternakan dapat sekaligus meningkatkan ketahanan pangan peternak yang mengusahakannya, apabila peningkatan produktivitas usaha sejalan dengan peningkatan pendapatan peternak. Selama ini peningkatan produksi hasil peternakan belum sepenuhnya dinikmati peternak, karena sebahagian besar dari mereka hanya bergerak pada kegiatan onfarm, dan nilai tambah terbesar justru berada pada kegiatan offfarm agribusiness yang lebih banyak dinikmati industri hulu dan hilir seperti industri pakan, pengolahan dan pemasaran.
Selain itu besarnya ketergantungan terhadap komponen impor pada pakan menyebabkan usaha ini rentan sekali terhadap berbagai perubahan dalam lingkungan nasional dan global . Dalam upaya memperkuat posisi tawar peternak, maka selain pengembangan diversifikasi usaha, diperlukan wadah yang dapat menyatukan peternak dalam berhadapan dengan industri hilir dan hulu, atau malah mengembangkan kegiatan yang sama dengan yang dilakukan industri hilir dan hulu. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa pengembangan organisasi petani/peternak terbentur sulitnya menyatukan kepentingan mereka dalam satu wadah. Untuk memecahkan semua itu maka perlu dilakukan pendekatan, yaitu pendekatan melalui pengembangan corporate farming merupakan salah satu alternatif dalam menyatukan peternak. Kelebihan pendekatan ini terletak pada tersedianya manajemen yang diharapkan dapat mencari faktor pengikat ying dapat menyatukan kepentingan petani, serta memperkecil variasi penggunaan input antar peternak/petani dalam mengembangkan usahanya .
Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan masyarakat, terutama yang terkait dengan produk peternakan, tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan dalam penyediaan produksi hasil ternak seperti telur, susu dan daging, namun juga harus dilihat seberapa jauh usaha peternakan yang dikembangkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat. Peningkatan daya beli melalui peningkatan produktivitas usaha dan pendapatan peternak, dengan sendirinya meningkatkan ketahanan pangan masyarakat dan sekaligus merupakan pasar yang potensial bagi produk peternakan.
Pengalaman selama pemerintahan Orde Baru, pendekatan dalam pembangunan pertanian lebih mengarah pada pengembangan produksi dengan menekankan perhatian pada kegiatan onfarm dan cenderung parsial. Semua berjalan sendiri-sendiri dengan sasaran petani yang sama, dan pencapaian sasaran lebih dilihat pada peningkatan produksi . Hasilnya seperti yang sudah kita ketahui semua, produksi hampir semua produk pertanian, termasuk peternakan mengalami peningkatan, namun pendapatan petani yang mengusahakannya tidak banyak berubah malahan cenderung makin menurun secara riil. Persoalannya, karena nilai tambah terbesar dari usaha yang dikembangkan petani justru berada di sektor hilir atau offfarm agribusiness (SA.RAGIH, 1995), yang justru tidak dinikmati petani.
Selain itu, karena pendekatannya parsial, sumberdaya yang ada disekitar petani tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Pada Kabinet Persatuan sekarang ini dilakukan perubahan dengan menekankan pada pendekatan agribisnis, dan mulai ada pemikiran melihat pengembangan suatu komoditi secara utuh . Selain itu keterkaitan antara satu komoditi dengan komoditi lainnya juga mulai diperhatikan, sehingga dihasilkanlah beberapa pemikiran tentang keterpaduan pengembangan suatu kawasan.
Konsep pengembangan usaha peternakan terpadu, yang melihat pengembangan ternak ayam ras dalam kaitannya dengan industri hilir clan hulu sudah lama dilontarkan oleh Dr. Soehaclji, mantan Dirjen Peternakan dengan konsepnya tentang KINAK (Kawasan Industri Peternakan). Kendala utama yang dihadapi adalah sulitnya menyatukan berbagai usaha yang ada dalam menghadapi pasar dan pesaing, sehingga bargainingposition peternak tetap lemah. Pada masa yang akan datang pengembangan pertanian dalam arti luas, termasuk peternakan di dalamnya, tidak mungkin lagi dilakukan secara parsial, dan pendekatannya lebih pada optimalisasi pemanfaatan sumberclaya kawasan. Untuk itu dibutuhkan organisasi petani yang kuat, yang dapat mengayomi kepentingan petani dalam upaya peningkatan produktivitas usaha dan pendekatan mereka, sehingga pada akhirnya mereka memiliki ketahanan pangan yang baik .
Corporate Farming merupakan salah satu alternatif kelembagaan yang cocok untuk itu. Hal lainnya yang menyebabkan rapuhnya usaha peternakan yang dikembangkan masyarakat adalah, sebagian besar peternak hanya bergerak pada kegiatan pemeliharaan (on farm) saja, sementara inclustri hulu clan hilir dikuasai oleh beberapa perusahaan kuat . Sehingga stabilitas usaha sangat rapuh, dan ketergantungan terhadap perusahaan besar tinggi sekali serta penghasilan yang diterima peternak kecil dan fluktuatif.

Kamis, 03 Mei 2018

APA ITU TEKNOLOGI FERMENTASI?

Teknologi fermentasi adalah suatu teknik penyimpanan substrat dengan penanaman mikroorganisme dan penambahan mineral dalam substrat, yang diinkubasi dalam waktu dan suhu tertentu. Fermentasi mempunyai pengertian aplikasi metabolisme mikroba untuk mengubah bahan baku menjadi produk yang bernilai lebih tinggi, seperti asam-asam organik, protein sel tunggal, antibiotik dan lainnya. Fermentasi merupakan perubahan kimia dalam bahan pangan yang disebabkan oleh enzim yang dihasilkan mikroba seperti bakteri, khamir dan kapang. 
Fermentasi merupakan teknologi pengolahan bahan makanan dengan bantuan enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Fermentasi adalah suatu proses perubahan kimia dari zat organik makanan dan bahan makanan yang mengalami fermentasi biasanya memiliki gizi yang lebih tinggi dibandingkan bahan asalnya. Hal ini disebabkan mikroorganisme memecah komponen–komponen kompleks menjadi zat – zat yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna, disamping itu mikroorganisme juga mampu mensintesis beberapa vitamin dan faktor pertumbuhan lainnya seperti riboflavin, vitamin B 12 dan provitamin A (Murugesan et all.,2005).
Teknologi fermentasi adalah suatu teknik penyimpanan substrat dengan penanaman mikroorganisme dan penambahan mineral dalam substrat yang diinkubasi dalam waktu dan suhu tertentu.   Nurhayani dkk (2000) menyatakan fermentasi mempunyai pengertian aplikasi metabolisme mikroba untuk mengubah bahan baku menjadi produk yang bernilai lebih tinggi, seperti asam-asam organik, protein sel tunggal, antibiotik dan biopolimer. 
Prinsip dari pengolahan bahan secara fermentasi sebenarnya adalah mengaktifkan pertumbuhan dan metabolisme dari mikroorganisme yang dibutuhkan sehingga membentuk produk baru yang berbeda dengan bahan bakunya. Keuntungan yang diperoleh dari proses fermentasi yaitu protein, lemak dan polisakarida dapat dihidrolisis sehingga bahan pakan yang dihasilkan cenderung mempunyai berat kering yang lebih rendah dibanding sebelum mengalami fermentasi. 
Proses fermentasi dapat memberikan perubahan fisik dan kimia yang menguntungkan seperti aroma, rasa, tekstur, serta dapat memecah senyawa kompleks jadi sederhana dan dapat menurunkan senyawa anti nutrisi. Fermentasi merupakan teknologi pengolahan bahan makanan dengan bantuan enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme (Buckle et all., 1987). Fermentasi menurut biokimia adalah proses perubahan kimia dari zat organik  makanan, bahan makanan yang mengalami fermentasi biasanya memiliki gizi yang lebih tinggi dibandingkan bahan asalnya. Proses fermentasi dapat memberikan perubahan fisik dan kimia yang menguntungkan seperti aroma, rasa, tekstur, serta dapat memecah senyawa kompleks jadi sederhana dan dapat menurunkan senyawa anti nutrisi (Hidayat, 2007).
Makanan yang mengalami fermentasi biasanya mempunyai nilai gizi yang lebih baik dari bahan asalnya. Hal ini disebabkan mikroorganisme bersifat katabolik atau memecah komponen yang kompleks menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam proses fermentasi adalah substrat (media fermentasi), mikroorganisme yang digunakan dan kondisi lingkungan. Keberhasilan fermentasi media padat dipengaruhi oleh komposisi substrat, ketebalan substrat, dosis inokulum dan lama fermentasi(Nuraini, 2006).
Fermentasi umumnya mengakibatkan hilangnya karbohidrat dari bahan pangan, tapi kerugian ini ditutupi oleh keuntungan yang diperoleh seperti protein, lemak dan polisakarida yang dapat dihidrolisis sehingga bahan yang telah difermentasi seringkali mempunyai daya cerna yang tinggi (Charlie dan Watkinson, 1995). Faktor-faktor yang mempengaruhi proses fermentasi antara lain: waktu, suhu, air, pH, nutrien dan tersedianya oksigen.
Beberapa faktor utama yang mempengaruhi proses fermentasi aerob yaitu lama inkubasi, suhu, kadar air, pH dan tersedianya O2 (Buckle et al., 1987). Selanjutnya dinyatakan bahwa walaupun fermentasi umumnya mengakibatkan hilangnya karbohidrat dari bahan pangan tetapi kerugian ini tertutupi oleh keuntungan yang diperoleh yaitu protein, lemak dan polisakarida yang mudah terhidrolisis sehingga bahan yang telah difermentasi acap kali mempunyai daya cerna yang lebih tinggi. Medium fermentasi harus mengandung unsur karbon dan nitrogen yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan mikroba. Media berpengaruh terhadap keberhasilan fermentasi, media harus mengandung unsur karbon (C) dan nitrogen (N) yang cukup untuk pertumbuhan perkembangan mikroba. Karbohidrat dari produk pertanian yang mengandung glukosa, maltosa dan sukrosa dapat dijadikan sebagai sumber karbon yang diperlukan untuk pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme. Selama proses fermentasi berlangsung terjadi proses metabolisme mikroba. Enzim dari mikroorganisme melakukan oksidasi, hidrolisis dan reaksi kimia lainnya sehingga terjadi perubahan kimia pada substrat organik yang menghasilkan produk tertentu.
 Pada proses teknologi fermentasi, mikroorganisme dibutuhkan sebagai penghasil enzim untuk meningkatkan kadar protein (Pasaribu et al., 1998). Peningkatan kandungan protein yang sejalan dengan pertumbuhan kapang (jamur) karena tubuh jamur terdiri dari elemen yang mengandung nitrogen. Selain itu enzim yang dihasilkan oleh jamur juga merupakan protein. Dinding sel jamur mengandung  6,3% protein, sedangkan membran  sel pada jamur yang berhifa mengandung protein 25-45% dan karbohidrat 25-30% (Garraway dan Evans, 1989). Mikroorganisme menggunakan karbohidrat sebagai energi setelah dipecah menjadi glukosa dilanjutkan sampai akhirnya dihasilkan energi. Setelah itu juga dihasilkan molekul air dan karbondioksida. Sebagian air akan keluar dari produk, sisanya tertinggal dalam produk. Air yang tertinggal inilah yang mengakibatkan kadar air produk fermentasi menjadi meningkat sehingga kandungan bahan kering menjadi berkurang (Gervais, 2008). 


Mitigasi & Adaptasi  Perubahan Iklim Mitigasi  dalam kamus John M. Echols dan Hassan Shadily memiliki arti yaitu pengurangan. Ada...