Dilema Antara Usaha
Peningkatan Produktivitas Bahan Pangan Hewani
dan Gerakan Cinta
Lingkungan
Manusia
membutuhkan berbagai asupan nutrien sebagai penghasil energi untuk melakukan
kegiatan sehari-hari dan mempertahankan kehidupannya. Asupan nutrien tersebut
bisa didapatkan melalui makanan, baik yang berasal dari makanan nabati maupun
makanan hewani. Makanan nabati adalah makanan yang berasal dari produk-produk
yang berasal dari tumbuhan seperti sayur, buah, minyak nabati, biji-bijian dan
umbi-umbian. Makanan hewani adalah makanan yang diperoleh dari poduk-produk
yang dihasilkan oleh hewan, seperti daging, susu, telur dan ikan.
Salah satu
nutrien yang sangat dibutuhkan oleh manusia yaitu protein dan asam amino.
Protein dan asam amino mutlak dibutuhkan oleh tubuh manusia sebagai bahan
penyusun sel. Sel manusia memang dapat mensintesis asam amino sendiri, namun
ada beberapa asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh. Asam amino
tersebut disebut sebagai asam amino esensial. Asam amino esensial hanya dapat
diperoleh manusia dari asupan makanan yang mereka makan. Asam amino esensial
ini nanti akan sangat dibutuhkan dalam proses sintesis protein, dimana
protein-protein tersebut akan sangat dibutuhkan untuk pembentukan berbagai
enzim dan hormon dalam tubuh sehingga jika asam amino esensial tubuh tidak
terpenuhi maka produksi enzim dan hormon akan teganggu dan proses metabolisme
juga akan terganggu.
Produk makanan
hewani mengandung protein hewani yang memiliki asam amino esensial yang
lengkap. Protein hewani juga memiliki kandungan vitamin B12 yang tidak ditemui
dalam protein nabati, dimana vitamin B12 ini sangat berguna dalam proses
pembentukan sel darah merah, memperlancar sistem metabolisme dan menjaga sistem
saraf (Nestle t.thn.). Asupan protein hewani juga penting bagi perkembangan
otak anak, baik saat masih di dalam kandungan maupun saat masa kanak-kanak,
sehingga untuk membentuk generasi yang cerdas diperlukan asupan protein hewani
yang mencukupi. Untuk mencukupi kebutuhan protein hewani masyarakat, diperlukan
adanya peternakan yang memproduksi komoditas hasil peternakan. Namun, ada isu
yang berkembang belakangan ini bahwa sektor peternakan merupakan sektor yang
banyak berkontribusi dalam pelepasan gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan
global.
Sapi merupakan
ternak ruminansia dengan sistem pencernaan poligastrik. Sapi memiliki rumen,
dimana di dalamnya terdapat mikroorganisme yang memecah selulosa pada dinding
sel tumbuhan sehingga nutrien dalam tumbuhan tersebut dapat dimanfaatkan untuk
proses metabolisme sapi. Dalam proses pemecahan selulosa, di dalam rumen
terjadi fermentasi yang menghasilkan gas metana. Gas metana yang dihasilkan di
dalam rumen sapi kemudian dikeluarkan dalam bentuk gas buangan (kentut dan
sendawa) serta dalam feses sapi. Gas metana inilah yang disebut-sebut sebagai
salah satu penyebab pemanasan global.
Gas metana
sendiri adalah gas yang dampaknya terhadap pemanasan global lebih besar
dibanding gas karobondioksida. Human
Society International (2014) menyatakan bahwa dalam jangka waktu 20 tahun,
metana memiliki angka GWP (Global Warming Potential) setidaknya 25
kali lipat dibanding karbondioksida. Artinya, gas metana yang dihasilkan oleh
kegiatan hasil peternakan memiliki dampak yang lebih signifikan dibanding gas
karbondioksida yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil. Sektor
peternakan sendiri berkontribusi sebanyak 35%-40% dari total keseluruhan gas
metana secara global. Diperkirakan setiap tahun ada 86 juta ton metana yang
dilepaskan ke atmosfer sebagai hasil dari pencernaan hewan ternak. Gas metana
ini tidak hanya dihasilkan oleh peternakan sapi, namun juga dihasilkan oleh
peternakan kambing dan domba yang juga merupakan hewan poligastrik yang
memiliki rumen dan mengalami fermentasi di dalam rumennya dan menghasilkan gas
metana.
Selain gas
metana, kegiatan di sektor peternakan secara tidak langsung juga bertanggung
jawab terhadap emisi gas karbondioksida. Kegiatan distribusi pakan, ternak
hidup, daging, susu, telur dan produk-produk olahan hasil peternakan
membutuhkan bahan bakar fosil yang akan melepas gas karbondioksida ke atmosfer.
Pembuatan pakan ternak juga membutuhkan berbagai komoditas pertanian seperti
jagung dan kedelai. Produksi jagung dan kedelai sebagai bahan baku pembuatan
pakan membutuhkan lahan yang tidak sedikit. Akibatnya terjadilah deforestasi
yang menambah buruk pemanasan global karena hutan sebagai penghasil oksigen dan
paru-paru dunia ditebangi dan diganti dengan komoditas pertanian sehingga
menyebabkan penipisan lapisan ozon di atmosfer. Selain itu, perkebunan jagung
dan kedelai yang memerlukan pupuk sehingga memunculkan munculnya pabrik-pabrik
pupuk kimia. Adanya pabrik pupuk juga menghasilkan gas rumah kaca yang dilepas
ke atmosfer. Pembakaran bahan bakar fosil alam distribusi pakan dan komoditas
hasil peternakan, deforestasi dan emisi dari pabrik-pabrik pupuk tersebut
secara tidak langsung merupakan dampak dari industri peternakan.
Dampak-dampak
yang disebabkan pleh adanya industri peternakan tidak bisa sepenuhnya
dihindari. Yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah meminimalisir adanya
dampak dampak merugikan tersebut. Secara garis besar, masalah pada sektor
peternakan dan lingkungan dapat dibagi menjadi empat yaitu adanya metana
sebagai hasil pencernaan secara biologis pada rumen ternak poligastrik, emisi
gas karbondioksida pada proses distribisi pakan dan komoditas hasil peternakan,
deforestasi akibat pembukaan lahan untuk ditanami komoditas bahan baku pakan
ternak, dan emisi gas rumah kaca oleh pabrik pupuk.
Gas metana
yang dihasilkan oleh ternak sebenarnya dapat diminimalisir dampak negatifnya
dengan cara pemanfaatan feses ternak menjadi biogas. Instalasi pembuatan biogas
memiliki desain yang sederhana dan mudah untuk dibuat. Cara ini efektif untuk
mengurangi gas metana yang terdapat pada feses ternak. Selain nitu, pemanfaatan
feses sebagai biogas juga merupakan salah satu bentuk dari pemanfaatan energi
alternatif yang bersifat renewable. Pemanfaatan feses menjadi
biogas juga dapat mengurangi biaya operasional peternakan karena biogas
tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik untuk kegiatan
operasional peternakan. Namun, pemanfaatan feses sebagai biogas hanya mampu
mengatasi masalah emisi gas metana yangada pada feses, sedangkan gas metana
juga terdapat pada kentut dan sendawa hewan ruminansia. Gas metana merupakan
gas yang mutlak dihasilkanoleh hewan ruminansia, karena hal tersebut merupakan
bagian dari aktivitas metabolismenya. Hal yang dapat dilakukan untuk
meminimalisir dampak buruk dari masalah tersebut adalah dengan cara pemberian
pakan dengan formulasi sedemikian rupa sehingga gas hasil fermentasi berupa
metana yang dihasilkan oleh mikrobia dalam rumen dapat diminimalisir jumlahnya.
Sapi yang
diternakkan, terutama di perusahaan-perusahaan feedlot pada
umumnya akan diberi pakan dengan formulasi tertentu untuk mengoptimalkan
pertumbuhannya. Pakan tersebut terdiri dari hijauan dan ransum. Puspitasari dkk
(2015) menyatakan bahwa feses sapi Friesian Holstein (FH)
laktasi yang diberi pakan ransum dan rumput gajah menghasilkan gas metana
dengan jumlah yang lebih rendah dibandingkan sapi yang diberi pakan ransum dan
jerami padi atau ransum dan campuran jerami padi dan rumput gajah. Artinya,
pakan memiliki pengaruh terhadap produksi gas metana hewan ternak. Namun,
sebagai sebuah industri, sektor peternakan juga memerhatikan efisiensi
produksi. Tujuan dari industri peternakan sendiri adalah bagaimana caranya
menghasilkan produk peternakan dengan waktu secepat mungkin supaya terjadi
efisiensi. Untuk itu sudah banyak sekali penelitian tentang formulasi pakan
dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak. Pemberian pakan yang menghasilkan
lebih sedikit gas metana menjadi sebuah dilema tersendiri karena pakan
merupakan inti dari industri peternakan dimana 70% biaya produksi terletak pada
pakan sehingga kenaikan biaya untuk pembuatan pakan dengan emisi metana rendah
akan menyebabkan peningkatan biaya produksi yang cukup signifikan. Untuk itu,
masih diperlukan penelitian bagaimana formulasi pakan yang dapat meminimalisir
gas metana yang dihasilkan pada rumen sapi, namun tetap memberikan tingkat
efisiensi yang tinggi terhadap usaha penggemukan ternak.
Emisi gas
karbondioksida karena kegiatan distribusi ternak atau komoditas hasil ternak
dapat diminimalisir dengan cara pembagian kuota wilayah ekspor dan impor ternak
dan komoditas hasil ternak, sehingga negara eksportir hanya dapat mengekspor komoditasnya
di negara yang letaknya tidak terlalu berjauhan. Selain itu, pengurangan kuota
impor atau jual beli antar daerah ternak hidup juga dapat dikurangi dan diganti
dengan impor daging beku yang lebih efisien tempat sehingga kegiatan distribusi
juga menjadi lebih efisien. Pemerataan daerah sentra peternakan juga perlu
dilakukan supaya kegiatan distribusi yang terjadi pada jarak yang terlalu jauh.
Selain itu penggunaan bahan baku lokal sebagai bahan baku pakan juga dapat
mengurangi banyaknya kegiatan distribusi.
Deforestasi
yang disebabkan oleh penanaman jagung dan kedelai sebagai bahan baku pakan dan
emisi yang diakibatkan oleh pabrik pupuk kimia dapat diminimalisir dengan cara
penerapan integrated farming system (IFS). Lahan kosong di
sekitar peternakan dapat ditanami komoditas bahan pakan sehingga mengurangi
deforestasi. Selain itu, sludge atau lumpur feses yang
gasnya sudah dijadikan biogas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman
bahan pakan yang ditanam di sekitar peternakan sehingga mengurangi penggunaan
pupuk kimia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar